Ganti Judul dan ALt sendiri

Wisata Religi: Mengenalkan Sosok dan Peran Dakwah Sunan Tembayat kepada Anak-Anak

Wisata Religi Mengenalkan Sosok dan Peran Dakwah Sunan Tembayat


Hai, Happy moms

Akhir pekan selalu menjadi momen yang dinantikan seluruh keluarga. Saat keluarga bisa berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Salah satu kegiatan favorit tentu saja adalah wisata bersama keluarga. Tidak hanya untuk membangun kebersamaan dengan anak-anak, tetapi juga momen untuk mengajarkan berbagai nilai yang penting bagi perkembangan anak. 

Salah satu pilihan untuk wisata bersama keluarga adalah wisata religi. Kita bisa mengunjungi berbagai situs atau bangunan peninggalan sejarah Islam. Salah satunya adalah ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam terkenal seperti para wali atau sunan. 

Di wilayah sekitar Solo, ada banyak pilihan destinasi wisata keluargaMommies dan keluarga bisa menjadikan ziarah makam Sunan Tembayat di Klaten, sebagai salah satu destinasi wisata religi bersama keluarga. Beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga juga berkesempatan untuk berkunjung ke sana. Pengalaman seru kami silahkan disimak berikut ini, ya! 

Wisata Religi Bersama Keluarga

Bisa dibilang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Itulah gambaran perjalanan keluarga kami ke Makan Sunan Tembayat di Bukit Jabalkat, Klaten. Saat itu Abinya anak-anak harus survey lokasi untuk kegiatan sekolah, lalu kami diajak sekalian. Kebetulan saya dan anak-anak juga belum pernah ke sana. Jadilah kunjungan itu sekaligus sebagai wisata religi bagi keluarga kami. 

1. Tradisi Ziarah Makam Wali/Sunan

Di Indonesia, terutama di pulau Jawa, tradisi mengunjungi makam wali atau sunan telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan dan budaya masyarakat. Kegiatan ini banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok pengajian, rombongan masyarakat atau dari sekolah/pondok. 

Tujuannya tentu untuk berziarah, berdoa dan mengenal para tokoh-tokoh dalam sejarah Islam. Aktivitas ziarah ini biasanya berlangsung pada hari-hari tertentu seperti Maulid Nabi, haul wali, atau hari-hari besar Islam lainnya.

Belakangan banyak juga keluarga-keluarga kecil yang melakukan wisata religi berziarah ke makam para wali/sunan. Hal ini menunjukkan kesadaran orang tua akan manfaat membawa anak-anak berziarah sebagai bagian dari wisata keluarga. Bukan hanya untuk wisata spiritual, tetapi juga sebagai media edukasi sejarah lokal dan dakwah Islam di masa lalu.

2. Manfaat Wisata Religi Ziarah Wali/Sunan

Wisata religi menjadi salah satu pilihan perjalanan wisata keluarga yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga edukatif. Orang tua bisa sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual dan sejarah Islam dalam diri anak-anak. 

Saat orang tua mengajak anak ikut dalam wisata religi mereka tidak sekadar jalan-jalan, membangun kedekatan dan kenangan indah keluarga.  Namun, memberikan pengalaman spiritual bagi anak-anak. Anak-anak belajar tentang adab dan nilai-nilai Islam. Juga membiasakan mereka untuk berdoa dan kegiatan ibadah lainnya. 

Wisata religi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah dan kultur Islam di nusantara, mengenalkan para ulama dan wali/sunan yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam. Serta sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Hal ini akan menumbuhkan ghirah (semangat) anak-anak dalam mengenal agamanya. 

Selain itu, anak-anak juga bisa melihat dan mengenal budaya lokal daerah setempat. Bagaimana kebiasaan dan kehidupan masyarakat sekitar. Mengajarkan kepada mereka untuk tetap menjaga adab dan sopan santun, serta menghormati orang lain di mana pun berada.

Lokasi Makam Sunan Tembayat 

Makam Sunan Tembayat terletak di perbukitan Gunung Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kurang lebih sekitar 10 kilometer dari Klaten kotanya. 

Jalanan menuju ke lokasi sudah sangat nyaman. Para pengunjung biasanya membawa kendaraan pribadi maupun bus. Di sediakan parkir yang luas juga sehingga memungkinkan bus besar bisa parkir dengan rapi.

Sebelum memasuki kompleks makam, kita harus membayar retribusi. Cukup murah, hanya Rp. 2.000 saja per orang. Saat itu kami hanya dihitung berempat. Karena si kecil masih di bawah usia 5 tahun. 

Untuk mencapai makam, kami harus menaiki sebanyak sekitar 250 anak tangga untuk menuju puncak bukit. Puncak bukit ini diperkirakan berada di ketinggian sekitar 860 meter di atas permukaan laut. 

Tapi bukan jalan-jalan bersama Abi Yudo kalau lurus-lurus saja. Hehehe... Baru separuh kami menyusuri anak tangga, tiba-tiba Abi mengajak kaki belok kiri. Keluar dari jalur anak tangga. Kami menyusuri jalan setapak di bawah rimbunnya pohon bambu. Di kanan-kiri jalan ada makam-makam, yang kami perkirakan adalah makam warga setempat atau bukan lagi anggota keturunan Sunan Tembayat. 

Kaki terus berjalan, sedikit mendaki. Di sisi kanan kami tampak dinding pembatas kompleks makam. Setelah sampai di atas kami berjalan memutar dan akhirnya menemukan jalan masuk ke kompleks. Di sisi kanan kompleks makam, bukitnya banyak ditumbuhi pepohonan jati. 

Kompleks makam ini memiliki luas sekitar 1,5 hektar dengan bangunan makam yang panjangnya ± 2,5 meter. Di dalam kompleks terdapat sebuah masjid kuno.  

Di kawasan ini juga terdapat gapura (pintu gerbang) yang bergaya arsitektur candi bentar dan paduraksa — sebuah perpaduan gaya Hindu dan Islam, yang mencerminkan akulturasi budaya Jawa dalam penyebaran Islam. 

Jika tidak ingin menaiki ratusan anak tangga, pengunjung bisa menggunakan jasa ojek dari lokasi parkir mobil. Ojek ini akan mengantarkan pengunjung sampai ke pintu samping (yang kami lewati sebelumnya). 

Lingkungan makam di Gunung Jabalkat juga dikelilingi pemandangan alam yang asri, udara sejuk, serta suasana tenang, sehingga sangat cocok untuk wisata keluarga yang mencari ketenangan spiritual sekaligus keindahan alam. 

Mengenal Sosok Sunan Tembayat

Di balik wisata ziarah ini, penting bagi keluarga terutama anak-anak untuk mengenal siapa sebenarnya Sunan Tembayat, kisah hidupnya, dan perannya dalam dakwah Islam di Jawa Tengah.

1. Biografi Sunan Tembayat

Sunan Tembayat, juga dikenal sebagai Sunan Bayat, mempunyai nama asli Ki Ageng Pandanaran (atau Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, dan Wahyu Widayat). Sunan Bayat adalah putra dari Syekh Maulana Hamzah (Pangeran Tumapel). Menurut beberapa sumber babad dan cerita lisan, ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati Semarang pertama. 

Ki Ageng Pandanaran lahir kurang lebih di tahun ±1461 M di wilayah Kerajaan Majapahit dan meninggal tahun ±1547 M di Bayat masuk wilayah Kadipaten Pengging, Kesultanan Demak. 

Istri beliau adalah Nyai Ageng Kaliwungu dan Nyai Ageng Krakitan. Mempunyai banyak keturunan, yaitu : 
  1. Raden Iskak Panembahan Jiwo Ing Tembayat
  2. Syaikh Hanafi Musa
  3. Panembahan Curen I
  4. Nyi Talang Warih Istri Ki Ageng Giring
  5. Istri Pangeran Winong
  6. Istri Pangeran Ahmad Dalem
  7. Nyai Ageng Panembahan Agung Istri Panembahan Agung Ing Kajoran
  8. Nyai Ageng Biting (janda Kyai Ageng Biting) Istri kedua Panembahan Agung Ing Kajoran
Dalam kompleks makam terdapat papan silsilah keluarga Sunan Tembayat. Dan anak keturunan beliau juga dimakamkan di kompleks yang sama.

2. Perjalanan Spiritualnya Mengenal Islam

Pada saat itu Ki Ageng Pandanaran sedang menjabat sebagai Adipati Semarang kedua. Beliau didekati oleh Sunan Kalijaga agar mau menjadi ulama sebagaimana sang ayah. 

Beberapa kali Sunan Kalijaga mendatangi Ki Ageng Pandanaran dengan penyamaran, tetapi belum berhasil membuat Ki Ageng Pandanaran bertaubat. Setelah akhirnya sadar, Ki Ageng Pandanaran bersedia menjadi murid Sunan Kalijaga. Namun Sunan Kalijaga memberikan syarat, yaitu : 
  1. Bupati harus berdoa dengan rutin dan mengajarkan Islam, mengajak semua penduduk yang berada di wilayah kekuasaannya masuk ke agama Islam.
  2. Adipati harus memberi makan santri dan ulama, membuat bedug di langgar-langgar.
  3. Memberi dan menyumbang dengan ikhlas dan menyerahkan kekayaannya pada yang membutuhkan dalam bentuk zakat.
  4. Ikut pulang ke rumah Sunan Kalijaga dan menjadi orang yang bersedia menyalakan lampu rumah Sunan Kalijaga.
Sempat disebutkan juga bahwa Sunan Kalijaga mendekati Ki Ageng Pandanaran untuk dijadikan pengganti Syekh Siti Jenar. Agar jajaran para sunan di Jawa tetap berjumlah sembilan orang (Wali Songo)

Setelah menyelesaikan belajar dan pengabdiannya bersama Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran kemudian melakukan perjalanan dakwah ke arah barat. 

Peran Dakwah Islam Sunan Tembayat di Jawa Tengah

Peran Sunan Tembayat dalam dakwah Islam di Jawa Tengah sangat penting meskipun kadang kurang mendapat sorotan seperti Wali Sanga klasik. Beberapa peran dakwahnya antara lain, 

1. Menyebarkan Islam di Wilayah Semarang hingga Klaten

Setelah berguru kepada Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran akhirnya melaksanakan misi dakwah sebagaimana para sunan/wali. Dari Semarang Sunan Tembayat melakukan perjalanan menuju Klaten dan singgah dibeberapa tempat. 

Dibeberapa tempat tersebut, dikisahkan Sunan Tembayat bertemu dengan beberapa orang yang dapat melihat karomah beliau. Kejadian-kejadian itu menyadarkan orang-orang tentang ajaran yang dibawajya. Hingga akhirnya menjadi pengikut Sunan Tembayat. 

Beberapa kota itu adalah Salatiga, Boyolali dan Klaten (Wedi, Bayat). 

2. Membangun Masjid dan Pondok Pesantren Pertama di Jawa Tengah 

Sesampainya di Tembayat,  Sunan Tembayat mendirikan sebuah masjid di atas Gunung Jabalkat. Masjid ini difungsikan sebagai tempat pendidikan agama. Aktivitas dakwah dan belajar mengajar terjadi di sana. Tempat itu pun akhirnya menjadi cikal bakal pesantren pertama di Jawa Tengah.

Sunan Tembayat diminta oleh Sunan Kalijaga untuk menjaga masjid kecil yang ada di Gunung Jabalkat. Masjid tersebut bernama Masjid Golo yang sekarang letaknya berada di bawah.

3. Asimilasi Budaya Lokal

Sunan Tembayat dikenal karena pendekatannya yang ramah dan toleran dalam berdakwah. Dakwahnya tidak mematahkan budaya lokal, melainkan mengakomodasi nilai-nilai tradisional Jawa. 

Hal ini tercermin dalam arsitektur makam dan gapura di kompleks makam Jabalkat, yang menggabungkan gaya candi (Hindu) dengan elemen Islam. Sikap ini mengajarkan bahwa penyebaran agama tidak selalu harus melalui konfrontasi, melainkan dapat melalui jalan damai dan penghormatan terhadap identitas lokal. Makam Tembayat menunjukkan bagaimana Islam bisa harmonis dengan budaya lokal. 

4. Teladan Kesederhanaan dan Pengorbanan

Kisah hidup Sunan Tembayat adalah teladan pengorbanan. Beliau meninggalkan kehidupan duniawi (jabatan bupati di Semarang) demi panggilan dakwah. 

Ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan dan kedamaian hidup tidak terletak jabatan dan kekayaan. Tetapi kedekatan kita kepada Sang Maha Pencipta. Dari Sunan Tembayat kita juga belajar tentang pengorbanan untuk dakwah. Rela meninggalkan kemewahan hidup demi menyebarkan Islam.

Mengajarkan Hikmah Ziarah kepada Anak-Anak

Wisata religi ke makam Sunan Tembayat kali ini menjadi momen edukatif sangat berharga bagi kami. Saya dan suami menyisipkan banyak pengingat dan nilai-nilai kepada anak-anak. Berikut beberapa hikmah ziarah yang kami sampaikan kepada anak-anak:

1. Mengenalkan Sejarah Tokoh Islam

Selama perjalanan menuju lokasi Makam Sunan Tembayat, saya sempatkan untuk membuka google dan mencari catatan terkait dengan Sosok Sunan Tembayat. Saya bacakan dengan keras sehingga anak-anak bisa menyimak. Sesekali saya dan suami berdiskusi. 

Sehingga kami lebih tahu tentang sejarah Sunan Tembayat. Mulai dari masa muda, silsilah keluarganya, perjalanan spiritual, hingga dakwahnya. 

Ada beberapa penggalan cerita yang sangat menarik perhatian anak-anak. Yaitu perjalanan dakwah Sunan Tembayat hingga ke Klaten, terutama pada bagian tiga penyamun yang bertobat (asal usul kota Salatiga), asal usul kota Boyolali dan Kabupaten Wedi. Juga kisah saat Sunan Kalijaga berusaha menyadarkan Ki Ageng Pandanaran.

2. Refleksi Nilai Spiritual

Ziarah adalah momen untuk dzikrul maut (mengingat kematian). Menunjukkan kepada anak-anak bahwa kehidupan kita di dunia akan berakhir di pemakaman. Bahwa kita harus mempersiapkan bekal untuk kembali kepada Allah. Sehingga harus senantiasa menjaga diri dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah. 

Mommies bisa mengajak anak-anak merenung: mengapa orang datang berziarah? Apa arti barakah? Mengapa kita mengingat kematian? Diskusi ringan seperti ini membantu anak memahami makna ziarah tidak hanya sebagai “bertemu orang suci”, tetapi sebagai cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengingat nilai-nilai akhirat.

3. Aktivitas Doa dan Dzikir

Saat berada di makam, kami mengajarkan kepada anak-anak tentang bagaimana adab berziarah. Apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. 

Mommies bisa menunjukkan tata cara berziarah yang sopan dan sesuai nilai Islam, yaitu tidak berlebihan, menjaga niat, dan menghindari syirik.

Kami juga membaca doa dan dzikir bersama. Mengajarkan anak untuk memberi salam penghormatan, atau berdzikir hati. 

4. Menghargai Budaya dan Toleransi

Karena kompleks makam dan gapuranya menunjukkan akulturasi budaya Jawa-Islam, ini adalah kesempatan bagus untuk mengajarkan toleransi dan nilai budaya lokal. Kami sempat menjelaskan tentang penyebaran Islam di Jawa banyak dilakukan melalui pendekatan damai dan menghargai tradisi lokal, bukan dengan pemaksaan.

Dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menggunakan budaya setempat. Menyisipkan nilai-nilai tauhid dan Islam lainnya dalam keseharian dan tradisi yang ada di masyarakat. Sehingga lebih mudah untuk diterima dan dipahami. 

5. Menghargai Lingkungan

Lokasi ziarah di perbukitan seperti Gunung Jabalkat juga memberikan pelajaran cinta alam. Anak-anak bisa belajar menjaga lingkungan, menghormati situs bersejarah agar tetap lestari.

Kami diwajibkan melepas alas kaki ketika memasuki kompleks makam, tidak membuang sampah sembarangan dan tetap menjaga ketertiban. 

Mari Berwisata Religi Bersama Keluarga

Melakukan wisata religi bersama keluarga nyatanya banyak sekali manfaat dan hikmahnya. Menjadi pelekat keluarga, rehat dan refreshing jiwa sejenak dari aktivitas harian yang padat, juga sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak. 

Dengan berziarah ke makam Sunan Tembayat, anak-anak semakin mengenal sosok dan peran dakwahnya. Juga menjadi pengalaman yang berharga bagi anak-anak untuk mempelajari sejarah dan nilai-nilai spiritual. Selain itu, kegiatan ini juga dapat meningkatkan keimanan dan spiritualitas anak-anak, serta mengembangkan rasa cinta tanah air dan menghargai warisan budaya.

Bagaimana, Happy moms jadi penasaran dengan wisata religi ziarah ke makam Sunan Tembayat kah? Yuk, segera diagendakan! 


‹ OlderNewest ✓

1 comment

Terima kasih sudah mampir. Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan dibaca juga postingan lainnya.
Dan Mohon tidak meninggalkan link hidup. Jika terdapat link hidup, mohon maaf komentar akan dihapus.
  1. Bagus sekali memanfaatkan perjalanan wisata untuk mengenalkan sosok yang memiliki peran penting dalam dakwah islam.

    ReplyDelete