Ganti Judul dan ALt sendiri

My Hijab Story

"Mbak kenapa sih jilbabnya di dobel?"

Saya masih ingat sekali pertanyaan itu saya sampaikan ke Mbak Ria Oktafiani di wisma Huruun 'in belasan tahun yang lalu. Dia adalah kakak tingkat saya di Fak. Psikologi Undip, sekaligus roommate saya kala itu.


Mbak Ria menjawab sambil terus bersiap merapikan jilbabnya. Dan saya setia mendengarkan sambil terus memperhatikan caranya memakai jilbab.

"Aku merasa lebih aman dan nyaman Dek!"

Saya menangkap maksudnya. Dengan jilbab dua lapis, dia merasa lebih tenang tanpa khawatir auratnya terlihat.

Masya Allah, fragmen itu menjadi pelajaran tersendiri buat saya yang saat itu masih menggunakan jilbab seadanya. Meski saya berjilbab sejak SMA namun hanya sebatas tahu bahwa berjilbab itu wajib.

Sejak saat itu saya terus berproses. Perlahan namun pasti, seiring dengan bertambahnya ilmu dan pemahaman saya, jilbab saya semakin rapi dan lebar menutup dada. Jika jilbabnya saya rasa terlalu tipis membayang, saya pun mendobelnya dengan jilbab yang lain.
Gaya berjibab sejak kuliah yang bertahan sampai sekarang 😁

Semua berjalan alami. Para senior memberikan teladan tanpa paksaan.

Lalu apakah jilbab membuat aktivitas saya terhambat selama kuliah?

Oh, tentu saja tidak! 😊

Benar kata Mbak Ria, justru dengan berjilbab para muslimah menjadi lebih tenang dan nyaman dalam segala aktifitasnya. Karena jilbab memang berfungsi juga untuk melindungi para muslimah, menjadi pengenal dan identitas dan tentu saja sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Saya tetap bisa banyak belajar, menggali dan mengaktualisasikan potensi saya.

Alhamdulillah kuliah lancar, juga bisa aktif di beberapa UKM. Sempat menjadi guru private, guru TPQ. Magang di PKPU Jateng, Sekolah Alam Ar Ridho, TK Mutiara Bangsa.

Saya biasa beraktivitas dengan bersepeda, naik motor, atau mengejar angkot dan bus Mangkang Bukit Kencana πŸ˜‚. Tak hanya berkegiatan di dalam ruangan namun juga  outdoor, di alam, outbound, main ke sawah, keliling kampung (ini mahasiswi kok kelayapan ya πŸ˜…πŸ˜†).

Beraksi dalam Outbond
Menjadi relawan bencana meletusnya gunung berapi

Saya bertemu dengan banyak orang dalam suasana santai juga dalam konteks bekerja secara profesional. Dengan tetap memakai gamis atau rok dan tunik plus jilbab tentu saja.

Semua baik-baik saja. Alhamdulillah.
Jilbab tak membuat halangan bagi saya mencoba banyak pengalaman baru. Meraih setiap kesempatan yang datang, dan mengejar cita-cita. 😁

Credit pict : Foto bareng si junior dengan hijab kenangan dari Mbak Ria Oktafiani (Miz U So Much, Sist 😘)


Dan kini semangat serta keyakinan itu yang saya teruskan kepada putri kecil kami Shofiyyah. Semoga keistiqomahannya dalam belajar berhijab menjadikannya sosok muslimah tangguh laksana shohabiyyah,  Shafiyyah Binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah. Yang dengan hijabnya dia menjadi sosok yang cakap berdiplomasi, penunggang kuda yang pemberani dan bagian dari pasukan wanita dalam perang Uhud.

Jilbab adalah bagian dari diri muslimah.
Dengannya setiap muslimah akan mampu cemerlang sesuai fitrah.
Sukses dan bahagia di dunia hingga ke jannah.
Insya Allah.

#ilovehijab
#istandwithhijab
#hijabworldday
#ceritaemaknyashofiy
#inspirasihijrah
#inspirasipengasuhan
#1stfebruary

***

Baru sempat pindahin ke blog. Lebih sering nulisnya di Facebook. Semoga ke depan bisa aktif di keduanya ya... Dengan begitu semoga ada lebih banyak pembaca yang terinspirasi. 😊


1 comment

Terima kasih sudah mampir. Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan dibaca juga postingan lainnya.
Dan Mohon tidak meninggalkan link hidup. Jika terdapat link hidup, mohon maaf komentar akan dihapus.
  1. Aku juga bertahap pake jilbab panjang mbak. Dulu malah lengan baju ga panjang tapi kerudungan. Ngalami juga diejek or disindir2 pas pake kaos kaki. Sekarang tak tengeri, orang-orang yang dulu ngomongin aku soal jilbab sekarang pada kelihatan nyaman juga kalo pergi pake jilbab panjang n pake kaos kaki. Biasane sih omongan nular ye kaaan🀭. Semoga mbak Iis dan mbak Shofiy Istiqomah yaa ..kami juga semoga, aamiinπŸ’™

    ReplyDelete