Hallo, Happymoms!
Rasanya keseruan dan kehangatan mudik lebaran masih terasa ya, Moms. Meskipun kita sudah kembali lagi ke aktivitas harian kita, tapi kesan itu rasanya masih enggan move on dari hati kita. Bagaimana tidak, lebaran menjadi saat yang selalu kita tunggu-tunggu. Tidak hanya untuk mudik ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga. Tetapi juga menjadi saat untuk merasakan kembali moment-moment menyenangkan selama lebaran, seperti saat kita kecil dulu. Terlebih lagi buat Mommies yang saat ini merantau jauh dari kampung halaman.
I know the feeling, Moms! Saya pun demikian. Setelah menikah saya resmi pindah kewarganegaraan, eh...pindah domisili, hehe. Meski tidak sampai pindah pulau, hanya pindah ke provinsi sebelah tapi tetap ada beberapa perbedaan dalam kebiasaan dan budayanya. Termasuk saat lebaran. Jadi, mudik lebaran tetap menjadi moment yang saya tunggu-tunggu. Kebiasaan dan tradisi lebaran di kota Ponorogo tetap bikin kangen dan membawa kenangan tersendiri. Mommies juga kangen dengan tradisi lebaran di kampung halaman?
Apa saja tradisi lebaran di kota Ponorogo? Bagaimana keseruan lebaran di kota Ponorogo yang selalu bikin saya kangen? Simak ceritanya sampai akhir ya, Moms!
![]() |
| Sumber foto: street_foodponorogo |
Agenda Wajib Mudik Lebaran
Setelah menikah saya tinggal di rumah suami. Maka mudik lebaran menjadi salah satu agenda wajib bagi keluarga saya. Setiap tahun kami lakukan, kecuali saat masa pandemi COVID-19. Lebaran di tahun pertama menikah kami memutuskan untuk berlebaran di kampung halaman saya. Setelah hari ketiga lebaran, kami pulang dan saya sangat shock. Di tempat suami sudah tidak ada bekas-bekasnya lebaran, haha .... Sudah tidak ada lagi rumah-rumah dengan pintu terbuka dan sederet toples berisi aneka penganan. Tidak ada lagi tamu-tamu yang datang berkunjung. Orang-orang tak lagi memakai baju bagus nan cantik seperti hari pertama lebaran. Suasana sudah sama seperti hari-hari biasanya. Orang-orang juga telah beraktivitas sebagaimana biasanya.
Saat itu saya baru menyadari bahwa ada banyak tradisi lebaran yang sangat berbeda antara di tempat suami dan di Ponorogo. Suasana dan kebiasaannya sangat berbeda.
Ternyata di tempat suami acara open house atau saling mengunjungi biasanya hanya berlangsung selama dua hari saja. Setelahnya banyak keluarga memilih untuk memanfaatkan waktu libur lebaran dengan jalan-jalan dan rekreasi bersama. Saat berkeliling ke tetangga biasanya hanya bersama keluarga masing-masing. Dan buah tangan (hampers lebaran) dikirimkan sebelum hari raya alih-alih dibawa saat berkunjung.
Mungkin hal ini salah satunya dipengaruhi budaya masyarakat kota sub urban. Tempat tinggal suami merupakan kota kecamatan yang berada di dekat kota besar, sehingga sedikit banyak masyarakatnya telah terpengaruh dengan budaya hidup di perkotaan. Sangat berbeda dengan kampung halaman saya yang masih sangat kental dengan budaya tradisional.
Kondisi itu membuat saya semakin kangen dengan keseruan lebaran di kota Ponorogo. Ada banyak kekhasan yang ternyata hanya dilakukan di Ponorogo. Dulu aktivitas selama lebaran hanya dilakukan sebatas rutinitas saja. Mengikuti kemauan orang tua. Namun semenjak berumah tangga sendiri dan jauh dari kampung halaman, semua itu menjadi hal-hal yang paling bikin kangen.
Maka sejak sat itu, kami membuat kesepakatan untuk merayakan lebaran pertama di tempat tinggal suami, baru setelahnya kami mudik ke kampung halaman saya. Hal ini agar kami tetap bisa mendapatkan suasana lebaran bersama kedua keluarga besar. Jadi, agenda mudik kami ke Ponorogo kami lakukan di hari kedua lebaran. Dan saya masih bisa menikmati suasana lebaran yang seru sepanjang pekan.
Tradisi Lebaran di Kota Ponorogo yang Bikin Kangen
Memang benar adanya ya, Happymoms. Sesuatu itu menjadi lebih berharga, berkesan dan ngangenin setelah kita jauh. Seperti suasana dan kebiasaan lebaran di Ponorogo. Rasanya menjadi lebih istimewa dan selalu bikin kangen setelah saya menikah dan pindah domisili.
Bertemu dengan keluarga besar, keliling ke rumah sanak keluarga, bertemu dengan teman masa kecil atau teman sekolah. Menikmati suasana hiruk pikuknya jalan raya dan menjadi bagian di dalamnya, ternyata sangat seru hingga melupakan rasa lelahnya. Sungguh menyenangkan.
1. Silaturahim Keliling Kampung (Mbarak)
Hari pertama lebaran bukan hanya menjadi moment saling memaafkan sesama anggota keluarga tetapi juga tetangga. Di Ponorogo ada tradisi Mbarak, yaitu silaturahim keliling kampung secara berkelompok atau rombongan. Kelompok-kelompok mbarak ini bukan rombongan keluarga besar tapi kelompok perkumpulan tertentu. Misalnya pemuda-pemudi karang taruna, ibu-ibu kelompok yasinan atau bapak-bapak jamaah mushola.
Terbayang kan bagaimana serunya! Meskipun berkeliling kampung mengunjungi setiap rumah, tidak akan terasa lelah dan membosankan.
Karena banyaknya rumah yang dikunjungi biasanya rombongan ini hanya mampir sebentar saja. Juga karena saking banyaknya anggota rombongan mbarak, tidak akan cukup tempat duduk yang disediakan oleh tuan rumah. Maka biasanya ada satu orang di paling depan yang bertugas untuk mengucap salam dan pertama menyapa tuan rumah, diikuti oleh yang lain di belakangnya. Setelah bersalaman mereka langsung keluar kembali dan menunggu semua anggota rombongan selesai bersalaman dengan empunya rumah. Orang yang paling akhir akan bertugas menyampaikan salam pamit karena rombongan akan melanjutkan perjalanan mbaraknya.
Rombongan mbarak ini biasanya beraksi saat pagi selepas shalat idul fitri hingga tengah hari di hari pertama lebaran. Adakalanya dua rombongan mbarak saling bertemu di jalan hingga mereka pun saling bersalaman dan bermaafan. Sungguh suasana yang menyenangkan dan menjadi pemandangan yang sangat mengesankan. Terasa hangat dan guyup.
2. Anjangsana ke Rumah Saudara (Sejarah)
Setelah selesai berkeliling kampung mengunjungi para tetangga, agenda berikutnya adalah sejarah. Sejarah merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menyebut anjangsana atau kunjungan ke rumah saudara, kerabat dan keluarga besar. Entah bagiamana asal muasal silaturahim ini disebut sebagai sejarah. Dan ternyata sebutan ini hanya familiar di daerah Ponorogo saja.
Sejarah ini biasanya dilakukan bersama keluarga inti (orang tua, kakak adek, pasangan suami/istri). Kali ini yang dikunjungi adalah kerabat yang agak jauh rumahnya. Bisa jadi rumah kakek/nenek, paman/bibi baik dari garis ayah atau ibu. So, sejarah ini tidak akan selesai hanya dalam satu hari, hehehe.
Maka sejak hari kedua lebaran, jalanan mulai ramai dan padat dengan berbagai kendaraan bermotor. Sepeda motor, mobil, minibus, bahkan pick up. Tidak hanya di jalan-jalan raya besar tapi keramaian itu sampai di jalan-jalan desa dan kampung. Seolah semua orang tumpah ruah di jalanan. Sungguh seramai itu!
3. Buah Tangan Kekeluargaan (Gawan)
Alih-alih berbagi hampers/parsel jelang lebaran, tradisi berbagi di Ponorogo justru dilakukan saat bertandang ke rumah-rumah secara langsung. Buah tangan ini biasa disebut gawan. Gawan ini biasa dibawa oleh yang lebih lebih muda kepada yang lebih tua.
Isi dari gawan ini sepertinya sudah ada aturan default-nya, hehehe. Biasanya berisi 1kg gula ditambah dengan satu atau dua jenis snack/panganan. Maka para ibu biasanya ikut arisan gula jauh-jauh hari sebelum lebaran sebagai antisipasi kebutuhan gula yang melonjak tinggi saat lebaran.
Jika dalam satu kali jalan kita melakukan roadshow ke beberapa rumah saudara, maka sebanyak itu pula gawan yang harus dibawa. Pemandangan sepeda motor dengan banyak gantungan kresek itu menjadi pemandangan yang lumrah saat lebaran. Niat berbagi itu berbalut dengan semangat menjalin silaturahim.
4. Legit dan Pulennya Madu Mongso
Salah satu daya kangen terbesar dari kampung halaman adalah makanan khasnya. Tidak ada pulang kampung tanpa acara menikmati sajian khas dan lezat pengobat rindu.
Dan di antara deretan cemilan dan snack lebaran yang terhidang di meja tamu, sajian khas lebaran yang paling bikin kangen saat lebaran di Ponorogo adalah madu mongso. Madu mongso merupakan makanan tradisional khas Ponorogo yang dibuat dari tape ketan hitam yang dimasak lama hingga kental, manis, dan legit. Teksturnya mirip dodol, dengan rasa khas hasil fermentasi.
Tape ketan hitam (fermentasi beras ketan hitam) dicampur dengan gula merah (aren), santan kelapa dan daun pandan. Campuran ini dimasak dengan api kecil. Harus terus diaduk supaya tidak gosong. Proses ini cukup lama, bisa 4–6 jam sampai mengental dan berubah warna jadi cokelat kehitaman. Setelah kental dan kalis, adonan didinginkan. Dibentuk bulat kecil atau sesuai selera. Biasanya dibungkus kertas minyak warna-warni.
Rasa manis legit dengan sedikit asam, aroma khas tape, berpadu dengan tekstur kenyal, pulen, agak lengket dan warna cokelat gelap keunguan. Hmmm ..., membayangkannya saja sudah membuat saya ngiler, hahaha. Rasanya belum lengkap sejarah lebaran kalau belum nemu dan menikmati si imut legit ini.
5. Lebaran Sepanjang Pekan (Bodo Kupat)
Suasana lebaran yang paling membuat kangen di Ponorogo adalah panjangnya masa silaturahim. Jika di tempat suami hanya sampai lebaran kedua saja, di Ponorogo suasana lebaran, saling kunjung dan keramaian di jalanan tetap bisa kita rasakan sepanjang pekan.
Setiap hari masih ada saja yang berkunjung ke rumah ibu saya. Entah keponakan jauh, mantan murid, atau teman lama. Di Ponorogo juga masih terjaga tradisi silaturahim ke rumah guru, kepala instansi tempat bekerja atau teman sejawat. Silaturahim yang sangat sulit diluangkan di hari-hari biasa, maka akan diupayakan sebisa mungkin di saat lebaran. Saudara jauh, teman lama, semuanya masuk list agenda sejarah, hehehe...
Hal ini membuat rangakaian silaturahim terus berjalan hingga sepekan, bahkan lebih. Jadi, lebarannya terasa lebih panjang. Apalagi ada moment merayakan Bodo Kupat (Hari Raya Ketupat). Masyarakat Ponorogo biasanya memasak ketupat ketika hari raya ketujuh. Suasana kembali meriah dalam keluarga karena makan besar bersama.
6. Silaturahim ke Pondok (Sowan Kyai)
Satu lagi tradisi yang jarang saya temukan di daerah lain adalah silaturahim ke pondok pesantren untuk sowan Pak Kyai. Di Ponorogo terdapat banyak pondok pesantren. Selama lebaran pondok pesantren biasanya membuat open house agar masyarakat luas bisa bersilaturahim langsung dengan pimpinan pondok (Pak Kyai).
Yang unik dari tradisi ini adalah silaturahim dilakukan berombongan dan menggunakan truk sebagai alat transportasi untuk menuju ke pondok. Jadi, jika saat lebaran di Ponorogo Mommies menemukan banyak truk mengangkut bapak-bapak berbaju koko rapi dan ibu-ibu berbusana muslim cantik-cantik, maka mereka adalah rombongan yang akan sowan kyai.
7. Gemerlapnya Pasar Malam Aloon-Aloon
Ini dia salah satu keseruan lebaran di Ponorogo. Pasar malam di alun-alun kota. Pasar malam biasanya dimulai sejak ramadhan hingga akhir Syawal. Aneka permainan dan jajanan terpampang nyata menggoda setiap anak-anak untuk menghabiskan uang THR nya, hehehe.
Saat malam lebaran suasana sangat meriah di alun-alun Ponorogo. tempat parkir penuh di sekitarnya. Hujan gerimis tak menyurutkan langkah para pengunjung. Siapa yang tahan melihat gemerlap lampu warna-warni yang berputar di bianglala, komidi putar dan di setiap arena permainan.
Selain bisa menikmati berbagai permainan dan jajan aneka kuliner, kita masih bisa menemukan mainan legend yang tetap eksis hingga saat ini. Salah satunya adalah kapal "othok-othok". Kapal yang dibuat kari kaleng bekas yang bisa jalan dan berbunyi othok-othok. Yang tidak kalah legend adalah celengan tanah liat dengan bentuk aneka hewan dalam berbagai ukuran.
Saya kemarin sempatkan juga untuk membeli penthol goreng khas Ponorogo dan kerupuk warna-warni favorit saat masih kecil. Kan, jadinya yang happy nggak cuma anak-anak tapi juga emaknya, haha... benar-benar obat kangen. Masya Allah.
Tradisi yang Tetap di Hati
Momen Lebaran Idul Fitri menjadi moment besar setiap tahun. Selalu ditunggu untuk mengobati rindu. Saat istimewa bisa pulang kampung untuk bersilaturahim dengan keluarga, sanak kerabat, dan sahabat. Tradisi berlebaran di kampung halaman nyatanya menjadi kerinduan tersendiri di hati kita.
Aneka kebiasaan dan sajian khas menjadi tradisi, yang memberi kesan mendalam saat kita sudah tidak lagi di kampung halaman. Ternyata tradisi lebaran di kota Ponorogo menjadi hal paling bikin kangen saat saya sudah tidak lagi tinggal di Ponorogo. Suasana mbarak, agenda sejarah, hingga legitnya madu mongso menjadi sebab lengkapnya suasana lebaran setelah mudik.
Semoga setiap tradisi baik yang sudah ada bisa tetap terjaga ya, Mommies. Membuat kita selalu kangen dengan kampung halaman. Menjadi penyemangat kita untuk mudik lebaran. Semoga lebaran tahun ini memberikan kesan mendalam tak terlupakan bagi kita dan membuat kita menjadi para happymoms. Aamiin.




Post a Comment
Dan Mohon tidak meninggalkan link hidup. Jika terdapat link hidup, mohon maaf komentar akan dihapus.